Hay World ~ย 

โ€‹Assalamu’alaikumwrwbr ~


Kenalin nama aku.. “Alula Hira Faizah”

Artinya:  anak perempuan pertama dari Ayah Hilman & Unna Citra, yg insyaallah akan selalu unggul, sukses dan berjaya ~


Aku lahir hari Sabtu, 16 Juli 2016 tepat jam 14.55 di RB Melong Asih ~

Berat badan aku 2,6 kg
Panjang 45 cm


Makasih banyak banyak yah om, ateu, akang, teteh, bapa, ibu, mas, mba, pokoknya semuanya yg udah bantu doa & support ;);)


Postingan pertama di blog ingin memperkenalkan seorang bidadari kecil yang saat ini usianya genap 6 bulan 5 hari 😘😘


Insyaallah nanti saya akan sedikit berbagi pengalaman saat melahirkannya..
(kayanya ga mungkin banget sedikit, ya minimal lah dari awal mules sampai terakhir berojol 😜😜)


Dimana pengalaman melahirkan merupakan moment yang sangat berarti bagi kita yang sudah berubah tittle menjadi ibu ๐Ÿ™‚ Alhamdulillah,,

Kalau gitu sekian dulu, sekarang waktunya kita istirahat 😴😴


Wassalamualaikumwrwbr ~


BELAJAR MENJADI ย MANAJER KELUARGA HANDALย 

Nice home work yang ke – 6 ini sangat menarik, karena dapat membantu kita nih terutama bunda full rumah tangga yang kadang ngerasa “aduuuh kerjaan aku ko ga beres-beres yah.. gimana mau bisnis, gimana mau bikin mainan tuk baby, gimana mau kreasi masakan dsb”.
Hehe, tenang bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap โ€œbelajar menjadi manajer keluarga yang handal.
Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.
Hal-hal yang sempet saya sebutkan tadi di atas kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup kita. Hal tersebut bernama yaitu RUTINITAS.
Ya, meskipun kadang kita merasa ya ini memang sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab saya, dan kalau bukan saya yang harus menyelesaikannya, ya siapa lagi??
Tidak apa jika kita menjalankan pekerjaan rutin yang tidak kunjung selesai, tetapi ingat hal itu bisa membuat kita merasa sibuk sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.

Maka ikutilah tahapan-tahapan menurut bunda profesional sbb :
Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting

DO: 

โœ…memasak untuk anak dan suami sedari subuh hingga pagi

โœ…memposting konten di sosmed atau update materi / ilmu terbaru 

โœ…menemani dan mendampingi Alula
DON’T:

โŽ mengobrol berjam-jam dengan tetangga

โŽ menumpukkan cucian piring dan baju

โŽ telat menyiapkan makanan anak dan suami
Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?

Menemani dan mendampingi Alula
Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras

Dari ketiga poin di atas itu sudah merasa paling penting dari berbagai kegiatan penting lainnya. Hanya saja masih ada yang kurang karena lebih mengutamakan menemani Alula.
Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan โ€œkandang waktuโ€, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)

Terlampir di jadwal harian
Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.

Insyaallah tetapi saya masih harus bisa adaptasi dengan aituasi ataupun kondisi yang dadakan atau di luar kendali saya.
Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan. (Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 โ€“ jadwal dinamis ( memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai, sehingga muncul program 7 to 7)
Jadwal Rutin

04.00 – 06.00 : menyiapkan Makanan anak dan suami, ibadah, belanja. 

06.00 – 06.30 : grooming 

06.30 – 07.00 : menemani anak makan

07.00 – 09.00: memandikan anak, sarapan, moyan dan silaturahmi tetangga
Jadwal Dinamis: 09.00 – 12.00 
Jadwal Rutin

12:00 – 13:00 : menemani anak makan siang dan ibadah
Jadwal Dinamis: 13.00 – 15.30
Jadwal rutin

15.30 – 17.00 : ibadah, memandikan anak, menemani anak makan sore

17.00 – 18.00 : masak sore dan grooming 

18.00 – 20.00 : ibadah, makan malam dan membereskan dapur

20.00 – 21.00 : menemani anak tidur
Jadwal dinamis:  21.00 – esok hari
Ket: Untuk jadwal dinamis, kadang ada yang berbeda setiap harinya. Kadang saya masih belum menyelesaikan jadwal rutin sehingga bergeser jamnya. Atau saya harus mengikuti kegiatan di luar rumah sekalipun saya pasti membawa Alula. Karena 24 jam saya untuk Alula 💜💜
Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?

kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Baiklah, sekian jadwal rutin dan jadwal dinamis harian saya. Semoga saya dan teman – teman semua yang sudah mau mencoba jadwal yang sama bisa tetap istiqomah dalam menjalankannya.. semangat ๐Ÿ˜€

Salam,

Unna Alula :):)

Belajar Bagaimana Caranya Belajar


Apa itu?

Yaps. Yang sedang teman-teman lihat di atas adalah, tangga ke-istiqomah-an versi saya.

Ko simple banget?  Hehe iya 

Saya bikin simple aja ya biar nanti pas saya butuh recharge motivasi saya tinggal lihat tangga itu lagi.. 

Karena untuk mencapai keistiqomahan dalam belajar sesuatu itu sebenarnya simple..

Berfikir sebelum bertindak, untuk apa saya belajar sesuatu itu.. kenapa saya harus belajar itu.. berapa lama, kapan, dan dimana saja saya bisa mempelajarinya..

Analisis lah kemudian, kayanya cocok nih dengan minat bakat saya jika saya mempelajari hal itu.. 

Planning lah rencanakan kapan saja dan dimana tadi ya bisa juga disini… atau seminar apa saja yang akan di ikuti.. 

Try. Ya lakukan, terjunlah, nyemplunglah.. 

Kelelep?? DO.. DO AGAIN.. 

Terakhir tinggal kita istiqomah menjalankannya dan amanah dengan ilmu yang telah kita pelajarinya. 

Ketika nanti saya menurunkan bagaiamana proses belajar ke anak saya, cukup sederhanakan saja dan tidak terlalu berekspetasi tinggi. Karena proses itu sendiri yang membuat kita untuk terus belajar dan bersabar.

Mendidik dengan Kekuatan Fitrahย 

โ€‹

Setelah hampir seperempat abad saya menjalani berbagai bidang  dan dari beberapa pengalaman sendiri. Saya mulai menemukan beberapa poin yang menarik untuk saya gali lagi. Seperti Teori Bunda Septi, “menarik tapi tidak tertarik”. Bisa jadi salah satunya yaitu potensi diri saya. Dimana kalau membaca kembali NHW pertama saya, ilmu yang ingin di dalami yaitu illmu ibu profesional.
Tetapi yang namanya ibu profesional itu wajib mengetahui segala ilmu dan tentunya harus sudah pintar membaca potensi diri. Jadi saya mengerucutkan saja potensi saya ada di 2 bidang, yaitu bidang parenting anak (psikologi) dan bidang enterpreneur (wirausaha). Yaps, meskipun ilmu kedua-duanya masih saya upgrade terus dan menerus.
Merasa klop banget dan sefrekuensi dengan suami yang berprofesi sebagai pengusaha juga. Jadi, saya bisa bantu dia dalam markomnya, sellernya dan pembukuannya. Selain itu kita pun bisa saling bertukar pikiran dan saling memberi masukan. Hhe, untungnya saya dipertemukan dengan dia yang sama-sama “tukang jualan” . Mungkin itulah yang disebut kalau jodoh itu saling melengkapi. Tetapi tetap yang dijadikan prioritas pertama yaitu anak dahulu. Tapi untuk pendalaman ilmu berbisnisnya saya barengi juga dengan parentingnya. Atau kalau bahasa kerennya sih mompreneur ya. Aamin ๐Ÿ™‚
Maka dari itu bisa saya tarik kesimpulannya ;

Misi hidup saya: mampu produktif dan menjadi bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan tanpa harus meninggalkan anak

Bidang: Parenting dan entrepreneur

Peran: mompreneur
Berikut ilmu-ilmu apa saja yang saya perlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut sesuai dengan tahapannya: 

1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar parenting, ilmu-ilmu seputar psikologi perkembangan dan pendidikan anak, Ilmu tentang pendidikan agama islam bagi anak

2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga, ilmu kemandirian finansial, ilmu mengatur keuangan, ilmu masak memasak.

3. Bunda Produktif : ilmu optimasi sosial media dan SEO, ilmu desain komunikasi visual, ilmu marketing, ilmu seputar wirausaha

4. Bunda Shaleha : ilmu tentang membuat keluarga yang sakinah mawadah warohmah, ilmu tentang membentuk generasi tebar manfaat
Milestone 
Saya menetapkan KM 0 pada usia 25 th, 

KM 0 โ€“ KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif

KM 1 โ€“ KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang

KM 2 โ€“ KM 3 (tahun 3-4 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan dan Bunda Shaleha
Sebenernya dalam setiap tahunnya saya bakal menyerap juga ilmu bunda lainnya. Tapi saya akan coba untuk fokus satu bidang dalam satu tahunnya terlebih dahulu. Itu menurut dan saran dari teteh teteh fasil, karena melihat kesuksesan Bunda Septi dengan membuat sejarahnya sendiri seperti itu. Semoga saya bisa istiqomah ya, seperti doa kedua orangtua saya yang mereka selipkan di nama saya. 

Kenapa saya simpan bunda produktif di tahun pertama ini, karena selagi anak masih usia satu tahun ke bawah masih belum extra perhatiannya. Saya coba comot ilmu bunda produktifnya, untuk bisa langsung di aplikasikan. 
Jadi saya masih bisa menyambi ikutan training online atau sekedar seminar bisnis. Sedangkan nanti usia anak saya mulai masuk 2 tahun maka saya mulai fokus bunda sayang, karena saya ada rencana untuk membuat program preschool untuk anak saya nanti. Dan dari sekarang juga saya sudah mulai cicil materi-materinya. 
Untuk KM 3 besar harapan saya, saya sudah bisa lebih settle dalam hal bisnis. Sehingga bisa lebih fokus lagi dalam mengatur keluarga, lebih gotongroyong dan romantis lagi dengan suami dan bisa mencoba exsist kembali tebar manfaat bersama anak. Aamiin Yaa Rabb 😁😁 

Salam Bunda Ceria 💝

👪 MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH 👪

Bismillahirrahmanirrahim..
Tiba juga di NHW yang ke-3 ini. Tema kali ini tentang bagaimana kita membangun peradaban di dalam keluarga kecil kita.
Hellow.. peradaban?? Yang serius nih.. kita kan hanya dan baru saja hidup bertiga, duh peradaban lingkupnya terlalu besar terlalu mengangan-angan..
Eits, jangan salah ya..

Masih ingat ga kalau IBU itu Agent of Change, lalu amanah anak itu proyek BESAR dan rumah kita adalah pondasinya Nah, disitulah poinnya.
” Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita. ” (materi matrikulasi #NHW3)
Dengan mengerjakan NHW3 ini, sebisa mungkin menjabarkan dan membuat saya lebih memahami kenapa saya dipertemukan dengan Aa hehe :oops::oops: (panggilan sayang saya ke dia padahal awal kenal manggil Abah haha, aw aw mulai nih baper).
Lalu, bagaimana saya bisa melihat potensi lebih atas anak yang telah di amanahi pada kita berdua. Dimana saya tidak hanya menciptakan keturunan yang biasa saja dari suami saya. Selain itu saya pun diajak pmencari apa potensi diri saya yang pastinya sudah secara anugrah di berikan kelebihan oleh Allah SWT tinggal saya pintar mencari apa misi spesifiknya itu. 
Dan terakhir ketika saya dengan peka melihat peluang diluar sana. Bagaimana kondisi lingkungan tempat tinggal saya saat ini. Sehingga nanti muncul lah apa peran spesifik keluarga saya di muka bumi ini. 
Pertama, saya di tugaskan untuk merasakan jatuh cinta kembali kepada suami saya dan buatkan dia surat cinta. Haha, bingung dong mati gaya secara saya ga PD  dan ga biasa bikin love letter gitu yah.. bukan kita banget deh haha..
Tapi ini patut dicoba karena dengan begitu bisa me-recall kembali masa-masa yang dulu saat kita yakin saling memilih satu sama lain dan menarik jika sudah melihat bagaimana responnya. Dan membuat romantisme muncul lagi disaat kejenuhan rutinitas keseharian ngurus anak lah, kerjaan lah, dsb. 
Tapi untuk tipe yang cuek dan ga banyak komentar sih ga usah di paksa ya hehe, yang penting sudah usaha.

Bonusnya sih kalau love letternya di bales dan tiba-tiba suami ngajak honeymoon lagi. (Kode keras) hihihi :oops::oops:
Berhari-hari mikir nulis apa ya, buka-buka folder camera dulu dan screenshot percakapan kita dulu. Ha?? Masih ada dong :oops::oops:😝😝

 I get it.. tapi karena saya tipenya visual jadi saya berniat kalau di bikin vidio aja deh jadi love movie gtu haha niat banget ya 😍
Disitu saya rangkai foto-foto beralur dari awal ketemu dan hingga saat ini. Lalu saya selipkan kata-kata dengan menitik beratkan pada alasan kuat kenapa dia memilih saya dan kenapa saya memilih dia. Memilih sebagai teman hidup dan sebagai orangtua dari anaknya kelak :oops::oops:

Bismillah deh dalem hati, cari moment yang tepat dan dari jauh hari saya ga berharap dapat balasan atau komentar yang sama “manisnya” haha karena saya hafal tipe suami saya ini seperti apa 😂😂. 

Alhamdulillah sampai pagi ini saya belum dapat responnya, hehe.. 

Gapapa, yang penting saya posting dulu aja tugasnya 😁😁

Kedua, tugasnya yaitu membaca potensi anak saya. Agak sulit ya kalau masih bayi hehe. Tapi dilihat saja dulu bagaimana tumbuh kembangnya saat ini. Sedikit bercerita tentang Si imut BOSCAN (Boss Cantik) nya Ayah dan Unna yang seminggu lagi usianya tepat 7 bulan, alhamdulillah !! 🙌🙌

Nah, sudah bisa apa aja sih Neng boscan Alula ini.

Berikut beberapa tahapan tumbuh kembang yang sudah di capai Alula :

  • BB saat ini kurang lebih 6 – 6,2 kg (beda timbangan saat di posyandu dan Dokter) 
  • TB saat ini 60-65 cm (lagi-lagi berbeda ukurannya)
  • Sudah bisa guling-guling di kasur, tanpa bantuan.
  • Tidurnya juga sudah bisa muter-muter ngabisin lapak ayah dan unnanya.
  • Sudah mulai hafal mana Unnanya. Misal saat main dengan siapa pun, kalau lihat unnanya kadang malah jadi ngerengek manja kayak minta mimik. Sambil bilang “neng… nen.. nen..” 😅😅
  • Meraih, melempar, dan mengambil benda yang didekatnya (sesulit apapun itu, diusahakan banget harus dapet, pake acara guling atau muter dulu).
  • Sudah mulai merespon candaan orang lain meski hanya sedetik dua detik bunyi tawanya, tapi kalau tersenyum lebar banget 😅😅😁😁
  • Memegang benda dengan satu dan dua tangan. Memindahkan, menggoyangkan atau melemparnya.
  • Semakin mahir menggerakan bibir dan lidahnya saat makan dan minum. 
  • Semakin expresif ketika diajak main ci-luk-ba dan saat diceritakan dongeng.
  • Mulai merespon dan menoleh ketika namanya disebut.
  • Semakin kuat dan lama latihan onggong-onggongnya. Sudah bisa menggerakkan kakinya maju-mundur. Tinggal melatih tangannya yang bergerak.
  • Celotehnya udah makin banyak, lalala, nanana, dadada, jajaja, gingging, nah yang saat ini lagi sering yaitu “neng.. nen..” terutama saat dia kesal karena lapar, pasti itu yang dia ucapkan.
  • Mulai ada kepengen untuk belajar duduk dan berdiri, tetapi masih harus di topang.
  • Ketika didudukan di meja makan, sudah senang pukul-pukul meja dan sambil menggoyang-goyangkan kakinya.
  • Sudah mahir minum menggunakan gelas dan Alula juga sudah bisa menjulurkan tangannya ketika melihat ada yang sedang minum.
  • Sudah bisa makan sendiri ala ala BLW. Tentunya masih tahapan awal ya. Belum jago banget, hhe masih belajar tekstur. Tapi sudah bisa mengambil dan memasukkan langsung ke mulutnya. Dengan satu tangan atau pun kedua tangannya. Sudah bisa mengeluarkan potongan yang besarnya juga dengan sendiri.
  • Menempelkan kepala bila merasa nyaman kalau di pangku unna atau meronta kalau merasa tidak nyaman. Biasanya kalau udah ga mau makan, langsung deh meronta-ronta di kursinya.
  • Berusaha memegang buku dan meraba-raba. Senang melihat warna-warni dan suka pengen tahu apa yang ayah-unnanya lakukan dengan buku itu.
  • Suka seperti memperhatikan orang sedang berbicara di telefon.
  • Kalau dilihat-lihat dan menerima banyak komentar tim hore hehe (keluarga,teman,tetangga) banyak yang bilang Alula ini cerewet mirip Unnanya. Haha maafkan.. 😅😛🙏 tapi ya mudah-mudahan kalau pun iya cerewet asal cerewet positif dan produktif ya nantinya hhehe

Mungkin baru segitu yang terobservasi oleh saya seputar tumbuh kembangnya Alula. Nanti kalau ada yang inget lagi saya tambahkan 😁โœŒ Selalu sehat, ceria, dan tumbuh kembang sesuai usianya ya Alula 😘😘
Tugas ketiga, membaca potensi diri sendiri. Setelah hampir seperempat abad saya menjalani berbagai bidang  dan dari beberapa pengalaman sendiri. Saya mulai menemukan beberapa poin yang menarik untuk saya gali lagi. Seperti Teori Bunda Septi, “menarik tapi tidak tertarik”. Bisa jadi salah satunya yaitu potensi diri saya. Dimana kalau membaca kembali NHW pertama saya, ilmu yang ingin di dalami yaitu illmu ibu profesional.
Tetapi yang namanya ibu profesional itu wajib mengetahui segala ilmu dan tentunya harus sudah pintar membaca potensi diri. Jadi saya mengerucutkan saja potensi saya ada di 2 bidang, yaitu bidang parenting anak (psikologi) dan bidang berdagang (wirausaha). Yaps, meskipun ilmu kedua-duanya masih saya upgrade terus dan menerus.
Merasa klop banget dan sefrekuensi dengan suami yang berprofesi sebagai pengusaha juga. Jadi, saya bisa bantu dia dalam markomnya, sellernya dan pembukuannya. Selain itu kita pun bisa saling bertukar pikiran dan saling memberi masukan. Hhe, untungnya saya dipertemukan dengan dia yang sama-sama “tukang jualan” . Mungkin itulah yang disebut kalau jodoh itu saling melengkapi.
Ketika lahirnya Alula, semakin munculah jiwa naluri keibuan saya. Disitu saya mulai buka-buka buku psikologi perkembangan, psikologi pendidikan, parenting dsb. Saya merasa seperti mulai kuliah lagi nih, hhe.. hampir setiap harinya cari lagi dan dapet lagi ilmu-ilmu baru seputar parenting. Jadi ilmu saya dulu ketika saya kuliah, memang kepake banget untuk anak saya sendiri. Hanya tinggal perlu di upgrade.. jangan lelah tuk terus belajar ;);)
Disitulah saya amat sangat bersyukur dan mulai lebih memahami, inilah skenario Allah SWT.
Dan tugas terakhir yaitu bagaimana membaca lingkungan dimana saya tinggal dan sejauh mana supportnya. Ceritanya ketika saya resign dari tempat saya mengajar, banyak sekali komentar yang masuk. Dimulai dari komentar yang komersil abis hehe nanti ga punya uang, nanti ga produktif, sayang gelarnya, dsb, dan saya hanya kasih senyum aja :):) sambil jawab, insyaallah Allah sudah atur semua. 
Hhe, bijak banget yah, padahal sih dalam otak lagi berfikir keras gimana caranya supaya tetap produktif tanpa harus meninggalkan anak dan rumah.
Setelah menikah, saya di boyong oleh suami ke tempat tinggalnya. Jika melihat lingkungan dimana saya tinggal saat ini, lingkungannya sudah baik dan “hidup”. Ketika sudah hampir setahun tinggal disini dan bersosialisasi dengan tetangga-tetangga disini. Berkenalanlah saya dengan salah satu guru yayasan di komplek ini. Ketika sering sharing dan bercerita, dia menceritakan ada beberapa anak yang memang membutuhkan seorang konselor dan helper.
Salah satunya kasus tentang anak remaja dan kasus anak usia 5 tahun. Secara tidak langsung beliau meminta bantuan saya yang notabene saya sebagai sarjana psikologi. Disitulah saya merasa tertantang, merasa perlu di recall kembali nih ilmu yang dulu-dulu dan tentunya merasa diakui karena bisa bermanfaat di lingkungan sendiri. Suami pun sudah sangat sering mengingatkan untuk main ke saung, yaps kita menyebutnya saung RAJAB.
Mungkin kedepannya saya akan mencoba menfokuskan dan serius dalam membantu disana. Perlu memantapkan hati kembali agar lebih percaya diri. Sekali lagi mungkin inilah mengapa keluarga saya dihadirkan disini. Meskipun secara profit tidak menjanjikan tetapi untuk menjadi produktif tidaklah salah satunya profit yang menjadi tujuan. Karena kita tahu, yang akan dipertanggungjawabkan nanti salah satunya adalah sudah sejauh mana kita mengamalkan ilmu kita.

Wallahualam… 🙏🙏

Salam bunda ceria โ™ก👪โ™ก

📝 CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN 📝

Assalamu’alaikum, wr, wb..

Jeng..jeng.. 😁😁

Masuk pekan kedua untuk NHW kali ini hampir mirip sama tugas akhir saat kuliah dulu loh.. yaps, membuat indikator penelitian, ehh.. tapi kali ini beda, indikator profesionalisme.

Wih, berat yah kayanya. iya berat kalau di panggul hhe.. ya maksudnya ketika dijadikan suatu beban pastinya jika ada yang tidak sesuai harapan akan terasa berat. Dalam membuat indikator tersebut haruslah berdasarkan teknik SMART (SPECIFIC, MEASURABLE, ACHIEVABLE, REALISTIC AND TIMEBONDING)

Hhe makin serius kan.. 

Tapi disini saya mulai membuat dari dimensi awalnya dulu yang merupakan pertanyaan inti dari NHW ini. Lalu jika ada saya turunkan lagi menjadi sub-dimensi. Dan terkakhir jadilah indikator-indikator.

A. INDIVIDU

Sebagai individu pastinya kita tidak bisa lepas dari Tuhan kita. Sub-dimensi pertama saya adalah dengan Allah SWT. Bagaimana saya seharusnya profesional dalam melakukan ibadah dan menjauhi larangannya. Berikut indikatornya: 

โœ” salat tepat waktu, “teng-go”

โœ” ibadah salat duha setiap hari

โœ” ibadah salat tahajud dalam seminggu 1 kali

โœ” mengaji sendiri di rumah sehari 3 halaman

โœ” hafalan PR pengajian ibu-ibu komplek, dalam 2 minggu hafal 1 surat pendek/doa sehari-hari

โœ” Seminggu dua kali mengikuti ta’lim dan pengajian ibu-ibu di komplek

โœ” setiap hari menyisihkan uang belanja untuk bersedekah sesisanya tidak saya patok harus berapa besarannya. 

Sub-dimensi kedua yaitu lebih ke standar indikator saya sebagai diri sendiri sebagai perempuan untuk lebih mengaktualisasikan diri dan mengelola harapan-harapan dari kedua orangtua saya. Berikut indikatornya :

โœ” Dalam setahun ini membuktikan diri pada orangtua bahwa saya bisa produktif di rumah tanpa menitipkan anak pada orang lain

โœ” Sebulan sekali menyempatkan diri bermain dan menjadi fasilitator di PAUD terdekat 

โœ” cek dan update barang jualan di setiap market place yang saya pegang

โœ” dalam 1 minggu mampu membuat min. 1 postingan di blog/instagram yang inspiratif seputar ilmu yang diunggulkan

โœ” membuat closing order harian 40 item barang perhari (masih kolaborasi dengan suami)

โœ” dalam sebulan membuka jaringan bisnis yang baru, bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru

โœ” mengunjungi orang tua, minimal 2 kali dalam sebulan

โœ” setiap harinya mampu bersosialiasi dengan tetangga terdekat. Membagikan makanan atau cemilan seminggu sekali.

โœ”mampu mengambil keputusan sendiri dan cepat dalam menentukan pilihan tanpa berlama-lama galaunya

โœ” memiliki pendirian dan prinsip

โœ” menemukan wawasan ilmu yang baru setiap minggunya

B. ISTRI

Untuk indikator istri, saya rasa tidak ada sub-dimensinya. Malahan jadi banyak juga indikatornya. Ingin menjadi istri yang sholehah dan taat pada suami. Singkat dan idealnya sih seperti itu, hhe. apalagi ketika kita sudah menerima dia menjadi imam kita, ya pasti kita sudah paham, tinggal aplikasinya saja dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi kenyataannya sudah setahun hidup bersama suami, kita sudah mulai belajar tentang adaptasi toleransi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Btw, ga kerasa sudah setahun lebih aja bareng-bareng.. berasa baru kemarin walimahan, ehhe.. Untuk indikator istri ini, saya tidak bertanya langsung pada suami. Pertama karena diburu deadline. Kedua karena tipe suami bukan tipe yang senang di interogasi hehe, jadi ya saya harus pandai-pandai menyurat apa yang tersirat, observasi, mengajak beliau berdiskusi santai atau sharing pengalaman, dan mengambil hikmah dari setiap kejadian.

Berikut indikatornya: 

โœ” mengingatkan suami untuk puasa sunah senin-kamis

โœ”setiap harinya bangun tidur di paling awal 

โœ” setiap harinya menyiapkan sarapan tepat waktu

โœ” setiap harinya menyiapkan masakan yang bergizi, bersih dan sehat 

โœ” mampu mengelola keuangan keluarga selama setahun kedepan

โœ” setiap harinya mampu mengatur waktu untuk menyempatkan diri menyelesaikan pekerjaan rumah tangga 

โœ” setiap harinya mampu membuat rumah nampak rapih, terutama kamar tidur harus selalu clear area.

โœ” setiap bulannya menyiapkan berbagai macam obat-obatan dan siap sedia untuk emergency first

โœ” setiap harinya mampu membantu dan mensuport teknisnya usaha suami

(Packing, closing order, pencatatan keuangan, markom)

โœ” setiap harinya mampu menentukan prioritas yang mana yang dilakukan terlebih dahulu

โœ” selalu bergerak cepat dalam segala hal, tidak berlama-lama dan harus diselesaikan saat itu juga

โœ” ketika akan bepergian, sejam sebelumnya sudah harus siap

โœ” setiap harinya menjadi pendengar yang baik dan pemberi masukan yang baik ketika diminta pendapatnya oleh suami

โœ” setiap harinya mampu bersabar dalam mengurus dan menghadapi orangtua terutama pihak mertua yang lebih butuh ditemani. Niatkan untuk ibadah karena Allah.

โœ” mampu bergaul dan menjalin silaturahmi yang baik dengan pihak keluarga suami

โœ” mampu menjaga kesakinahan keluarga di depan orang lain dengan tidak memposting apapun yang memancing munculnya fitnah/suudzon dari orang lain

โœ” tidak melulu curhat kepada orang lain 

โœ” tidak berlama-lama ketika di rumah tetangga atau di luar rumah dan harus tahu waktu 

โœ” menjaga nama baik keluarga dengan tidak ber-gibah

โœ” mampu mewakili suami jika sedang dibutuhkan dan kebetulan sedang tidak ada

C. IBU

Tibalah dimensi terakhir yaitu ibu. Membahas ini pun tak ada ujungnya, karena terkadang kalau kita lagi lihat postingan ibu di  sebelah yang anaknya tiap hari makan lahap, anaknya tiap hari makan makanan yang mengandung AHA, DHA, zat besi tinggi tanpa pengawet dsb. Belum lagi, anaknya sudah diajarkan menjadi hafiz quran. Belum lagi, koleksi buku pendidikannya banyak sekali. Hihi, baiklah saya cuman bisa baper tapi sambil berdoa pada pemberi rizki sang anak. Sanggupkanlah saya untuk membahagiakan anak saya, apapun caranya asal Allah suka. 

Kembali ke indikator ya, indikator yang saya buat simpel aja. Apa yang sedang melintas di pikiran saya ya saya tulis. Berikut indikatornya:

โœ” MengASIhi anak hingga lulus 2 tahun

โœ” Setiap harinya menyiapkan MPASI yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi ibu dan anak

โœ” Setiap harinya menemani anak bermain.

โœ” Setiap harinya menjamin makanan untuk anak sehari 3x 

โœ” Mampu menghasilkan 2 mainan kerajinan tangan atau jenis permainan baru dalam satu bulan

โœ” mendapatkan ilmu parenting baru setiap minggunya min. 2 artikel dan dicoba diaplikasikan

โœ” setiap harinya mampu menciptakan suasana yang gembira dan tenang ketika terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka (misal, anak kejedug tembok)

โœ” setiap harinya mampu menjadi contoh yang baik untuk anak

โœ” setiap harinya menjaga keselamatan anak

โœ” setiap harinya memantau terus tumbang anak

โœ” membacakan dongeng saat akan tidur 

โœ” memastikan jadwal posyandu dan imunisasi setiap bulannya

Mudah-mudahan apa yang saya buat ini sesuai atau hampir mendekati dengan harapan dari tim matrikulasi. Dan satu lagi semoga indikator ini menjadi proses saya dan kita semua para perempuan, baik individu, istri atau pun yang telah menjadi seorang ibu lebih baik lagi. Lebih profesional lagi.

Wassalamualaikum, wr, wb.

Salam Bunda Ceria ;)🌸

Ilmu dalam Universitas Kehidupan.

.. Bismillahirrahmanirrahim..
Ilmu yang jelas sudah ada hukumnya wajib dipelajari yaitu fardu’ain jelas ilmu agama. Jika kita hidup tanpa agama kita sebagai penerang kehidupan kita disaat gelap, jelas kita akan tersesat.

Jika kita hidup tanpa al-quran sebagai pegangan hidup, jelas kita akan terjatuh-jatuh.

Alhamdulillah walsyukurillah bagi kita yang lahir sudah secara islam. Tinggal kita mendalaminya lagi dan sebisa mungkin ikut menyiarkannya juga baik melalui dakwah atau cara lainnya. 
Masuk di usia saya yang sudah seperempat abad ini dan Alhamdulillah saya sudah di dipertemukan dengan teman hidup yaitu suami saya yang amat sangat sayang anak dan istrinya (suatu saat nanti akan saya perkenalkan dia di next posting) dan seorang bidadari kecil yang usianya sudah genap 6 bulan (saya sudah sedikit memperkenalkan Alula di postingan pertama saya). 
Sebelum saya masuk ke inti jawaban. Saya ingin bercerita dahulu dan me-review alur skenario hidup saya hingga saat ini. 

Alhamdulillah lagi-lagi saya ucapkan syukur atas nikmat yang Allah berikan, saya diberikan kesempatan untuk sekolah hingga perguruan tinggi. Tentu saja itu bukan semata-mata kerja keras saya sendiri, tetapi juga berkat usaha dan doa kedua orangtua saya. Betapa mereka susah payah demi menyelesaikan pendidikan anaknya hingga S1. 
Saya memilih Jurusan Psikologi murni di Universitas Negeri di Bandung, yang kalau saya berangkat kuliah itu hampir miriplah sama perjalanan piknik ke arah lembang sana, hehe.. ketebak ya, yap kampus UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). 

Saat kuliah, saya layaknya mahasiswa lainnya, sempat terbawa euforia semangat dari teman-teman Wirausaha. Saya jadi rajin dan keranjingan ikut semacam seminar, workshop, bazzar ke bazzar dan bermimpi memiliki suatu brand sendiri.

Singkat cerita ketika saya lulus jadi sarjana. Saya yang tadinya ingin fokus di dunia Industri karena sempat bekerja juga di sebuah perusahaan muslim yang namanya sudah sangat harum itu dan ingin kembali berkarir disana. Tetapi kehendak Allah lain lagi, saya malah terjun di dunia pendidikan. Berkat doa mamah yang bisa menebus langit, hhe.. Saya menjadi betah dan nyaman berada di zona keguruan hampir 2 tahun angkatan bekerja disana. Yap, saya sempat menjadi guru BK di sebuah sekolah swasta tingkat pertama. Menarik juga ya dunia pendidikan. Disana saya amat sangat banyak melihat realita permasalahan anak, keluarga, dll. Banyak pelajaran hidup yang bisa saya ambil hikmahnya. 
Lalu setelah itu saya menikah, syukur alhamdulillah setahun kemudian Alulah lahir ke dunia. Dan disitulah saya merasa terlahir kembali, memulai kehidupan yang baru dengan status IBU. Dan saat itulah dalam setiap mengambil keputusan terpenting di hidup saya hanya untuk Alula. 
Ketika saya memutuskan berhenti bekerja, nyirnyiran pun sering terdengar. “sekolah tinggi sampe S1 ujungnya ngurus anak, buang buang uang aja, mau ngurus anak mah sekolah SD juga bisa, sayang banget gelarnya”.

atau “sayang banget jadi guru kan sudah enak”. Yap, menjadi guru itu memang profesi yang bisa fifty:fifty untuk anak dan keluarga, dan juga mengamalkan ilmu saya untuk turut mencerdaskan anak anak bangsa. Tapi sekarang, Alula lebih membutuhkan saya, ibunya.
Yap, saya diuji dengan banyak nyirnyiran saat saya sedang mengandung si utun itu. Saya coba meyakini diri sendiri, meminta pendapat sana-sini, terutama mereka yang lebih paham tentang bagaimana menjadi ibu. Mengena sekali ketika ada satu nasehat, jika ingin menitipkan anak mu, titipkanlah pada orang yang minimal setara dengan pendidikan mu. Anak itu titipan, masa kita titipkan lagi ke orang lain. Allah sudah percaya teh Citra bisa menjaga amanah ini, dengan suami yang siap ikhtiar untuk keluarganya dan pastinya dengan ilmu yang sudah teh Citra raih selama perkuliahan sudah  seiizin Allah. Apalagi atuh yang teh Citra cari? teh Citra sekarang sudah menjadi Ibu. Kehidupan itu ada untuk kita menyiapkan bekal di akhirat nanti.
Astagfirulloh, saat itu saya cuman senyum sambil berkata dalam hati,  saya sudah menjadi ibu sekarang. Saya sudah sempat melihat dan menyelami beberapa kasus tentang mereka anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan didikan dari ibunya. Maka saya tidak ingin Alula mengalaminya. Betapa masih ada diluar sana yang ingin kuliah hingga tamat sarjana. Maka saya ingin Alula dididik oleh saya sendiri yang pendidikannya insyaallah dasarnya saya sudah pernah mendalaminya. Seluruh ilmu saya untuk Alula. 
Tetapi, apa sudah cukupkah ilmu saya? Secara zaman kuliah saya malah lebih rajin berbisnis di banding ngampus. Baiklah, Perjuangan tidak berhenti sampai disitu. Ketika Saya sedang browsing-browsing di dunia maya, ketemulah dengan akun IG @Institut Ibu Profesional Bandung. Saya selidiki menarik sekali, lingkungan komunitasnya, programnya, dan visi misinya. Dan dari situlah saya semakin semangat untuk lebih mendalami ILMU IBU PROFESIONAL dalam universitas kehidupan ini.
Alasan terkuat saya sehingga ingin menekuni ilmu tersebut. Karena satu, ibu itu merupakan madrasah pertama bagi anaknya, guru pertamanya di dunia. Bangganya saya jika suatu hari nanti sayalah significant person bagi anak-anak saya kelak. Bukankah mendidik anak Wajib? Bukankah mereka dibuat dengan penuh cinta? Bukankah suami kita pun memilih kita dibanding ribuan wanita lainnya untuk dijadikan ibu untuk anak-anaknya. Seperti nasehat orangtua, pendidikan anakmu dimulai saat kau memilih istrimu. Dan bukankah tanggungjawabnya bukan hanya di  dunia tetapi juga di akherat. 

Memang tugas utama orangtua, terutama kita seorang ibu itu menjamin pendidikan anak.
Serius.. mohon maaf jika saya sedikit menyinggung perasaan ibu-ibu di luar sana. Bukan maksud ingin mendoktrin atau membandingkan ibu Kantoran atau ibu rumah tangga. Tetapi memang betul, menjadi ibu rumah tangga sungguhan itu bukan proyek kecil, melainka proyek besar, yap, proyek Akherat. Maka menjadi ibu yang cerdas, pintar dan profesional itu wajib.
“Ah, untuk apasih Citt ? Cape kali kaya gituan, kan udah cukup sekolah formal saja ada gelarnya. Bisa diuangkan. Kamu kan jadi ibu saja sudah cape dengan kerjaan rumah tangga, natural sajalah mengalir apa adanya”. Yap, nyirnyiran lagi. Saya tarik nafas, buang, dan senyum. Hmm, bagi saya belajar menjadi IBU Profesional itu  sepanjang masa, ilmunya harus tetap di upgrade. Tidak akan ada yang sia-sia setiap ilmu yang saya dapatkan semua untuk anak-anak, saat ini ya untuk Alula.
Menjadi ibu itu harus serba bisa. Bisa menjadi dokter, menjadi ahli gizi, menjadi cheef, menjadi psikolog, menjadi guru, menjadi laundry, badut atau artis sesekali dan menjadi sahabat. Biarkan tangan saya sendiri yang akan membentuk pribadi dan karakternya. Karena itu Alula hanya butuh ibunya, yaitu saya.
Dan entah suatu saat saya akan meninggalkan mereka. Bangganya saya jika saya bukan hanya bisa membuat seseorang lulus sekolah tinggi, memimpin umat, atau bisa berdakwah keliling dunia 

tapi juga lulus melewati ujian badai pernikahan dan kehidupannya kelak.
Lalu dari mana nanti saya belajar ilmu itu? Ada universitasnya kah? Yap, salah satunya dengan mengikuti program Institut Ibu Profesional ini. Dimana dalam setiap minggunya akan ada materi-materi dan tugas pribadi yang wajib dikerjakan. Tugas ini bukan sekedar tugas, tetapi lebih memberikan value di dalamnya. Sebenarnya artikel curhatan panjang ini juga merupakan jawaban dari setiap pertanyaan yang ada dalam tugas pribadi para calon ibu profesional NHW1 (Nice Home Work 1).
Strategi kedua, berhubung saya juga anak baru satu (hhe, masih berencana nambah sih) dan masih sangat muda. Maka saya disini tentunya di tempat tinggal saya dengan suami, akan aktif ikut kegiatan yang bernuasa keibuan, seperti pengajian rutin, koperasi, pkk, dan arisan. Selain menyambung silaturahmi dengan tetangga, saya pun menggali banyak pengalaman positif dari cara mendidik dan pola asuh mereka. Saya sadar belum menjadi ibu yang pintar dan hebat seperti diluaran sana, saya hanya seorang ibu yg sedang belajar menjadi yang terbaik untuk anak saya.
Strategi ketiga ya tentunya lebih aktif lagi mencari ilmu di luaran sana dan terus mengembangkan jaringan silaturahmi. 
Menuntut ilmu tidaklah mudah, diperlukan sikap yang positif, terbuka (open-minded), konsisten, sabar, dan komitmen. Jika saya ingin menjadi seorang ibu profesional maka perubahan sikap-sikap penguat itulah yang akan saya perbaiki kedepannya setahap demi setahap.
Mungkin tidak akan ada ujungnya jika kita membahas tentang ilmu menjadi ibu. Karena..

Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia

(MATERI MATRIKULASI 1 : ADAB DULU SEBELUM ILMU) 

Selamat berjuang dan semangat terus menuntut ilmu untuk mencetak pribadi yang kokoh dan mandiri.

Salam, bunda ceria :):)

Waktunya nyemil unyu-unyu ala BLW (Baby Lead-Weaning)

Hari ini Alula sedang belajar lagi makan dengan metode BLW (baby lead-weaning). Cuman karena tetep yang utama masih dengan bubur saring, jadi fingerfood-nya sekali aja ya di waktu makan cemilan.
Sudah masuk minggu kedua juga, kayanya Ula udah bisa di kasih cemilan kalau siangnya. Sebenernya Ula juga udah beberapa kali mencoba BLW tapi karena masih belajar, sebelumnya coba makan pisang, alpuket, sama sepotong biskuit miln* rasa ori hihi 😂โœŒ tapi masih terlalu licin. 
Nah, kebetulan kemari hunting ke pasar berdua aja sama Ula, dapet deh wortel sebungkus kayanya 1/4 kg kurang deh tapi lumayan buat stok, unna juga bisa dapet 3 macem sayuran cuman bayar 5000, makannya unna seneng banget deh kalau udah belanja ke pasar 😁😁 loh haha malah jadi bahas kesini punten ya maklum  namanya juga ibu! 😁😁  
Terua untuk 1-2 menit pertama juga dia masih kenalan sama teksturnya aja sih. Kaya di pukul-pukul, di geser-geser, di pegang eh jatuh lagi, dan akhirnya berhasil dia pegang erat-erat langsung ammm, udah ga mengkol-mengkol dulu, langsung meluncur ke mulutnya. Dari 5 potong wortel hampir 4 potong yang dia kunyah, tapi belum sampai habis, cuman potong 1/4-nya plus sama yang dia lepehin sendiri.
Emang sih yang kelihatan masuk sedikit sari-sarinya kali ya hihi (versi kita) tapi bagi bayi itu udah cukup. Karena salah satu prinsip BLW, makan yang cukup bukan makan yang banyak dan bayi sendiri lah yang mengatur kapan dia mulai-berhenti makan. Apalagi Ula juga masih newbie, tapi seengganya unna lebih seneng lihatnya antusias pada waktu makan. 😂😂
Ga lebih dari 20 menit sih, Ula mulai uha-ehe dan pukul-pukul mejanya.. ok, unna anggap selesai sambil praktekin geleng-geleng kepala. Langsung deh di elap-elap, dia minta mimik, belum lama langsung merem 😅😅 

Berarti ada indikasi dia perutnya terisi tinggal bobo cantik 😆😆

Oh iya, salah satu tips ber-BLW sebelum mulai makan, ada baiknya di kasih mimik dulu, biar ga kelaperan banget dan ga frustasi nanti bayinya. 

Ini vidio yang sempet unna rekam saat ber-blw ria. Kalau disuapin sih mana sempet cekrek-cekrek 😂😂